Email Subscription box byLatest Hack

Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

30 November 2021

Jakarta Sudah Usai

Malam ini aku bermimpi. Untuk mengakhiri cerita ini. Dengan senyum dan tawa geli.


Kamu dan dia dengan buasnya hadir semalam merasuki. Ia tak menggila, malah menebar tawa. Sepertinya itulah sifat asli dari pria yang penuh cinta. 


Kita bertukar cerita. Tentang dunia-dunia yang terlintas di pikiran. Tentang cinta yang tak tersampaikan. Tentang musik yang hinggap di telinga. Tentang persimpangan yang tak pernah dijumpa. Tentang karakter-karakter yang tak pernah ada. Tentang buku yang ditulis berdua. Tentang gelembung yang tak pernah pecah. Penuh di dada.


Air mata singgah di ujung mata. Ada tangis, ada tawa. Tapi kita sadar, aku sadar. Bahwa semesta kita sudah sampai di ujungnya. Waktu yang tepat untuk mengakhirinya dengan senyum dan tawa.


Ia hanya berkelakar, "Finally i’m number one."


Yeah, from now. Aku bahkan tidak tahu bahwa selalu jadi yang pertama. Until now.


Sampai jumpa di pertemuan pertama kita. Kelak. Jika semesta mengijinkan.


Jakarta sudah usai. Ketika aku bangun pagi ini.

25 October 2015

Kapan ke Jakarta lagi? (2)

Sore itu jalanan masih hectic seperti biasa. Menyempatkan singgah di kedai siap saji ini bukan pilihan utama. Hanya salah satu cara membunuh waktu menunggu kabar. Bagi Pram, tempat itu seperti surga dunia sekaligus neraka baginya. Menyantap burger favoritnya, yang baru saat itu ia sadar, menyajikan menu baru dua kali lebih tebal.

Matanya kosong menatap keluar jendela kaca besar. Seakan merasa ada yang salah, ia tertunduk. Ia hampir tidak bisa melihat kakinya saat itu. Perut buncit bukan lagi kebanggannya. Harapannya tentang gemuk, jauh dari harapan. Pram kecil sangat kurus, walau ia tak pernah sakit-sakitan. Ia bahkan tak pernah masuk rumah sakit, selain mencabut gigi susu dan sunat. Ah ya, Pram sunat dua kali.

Dua kali. Ia ke Jakarta dua kali. Dua kali ia bertemu keajaiban, yang kemudian ia lewatkan. Atau memang takdir menulis lawan. Takdir yang menulisnya melaksanakan Jumat di pinggir sebuah taman. Taman yang ia baru tahu kemudian hari, tempat-'nya' berakhir pekan.

Burger di tangannya baru dimakan separuh. Matanya makin kosong melanglang jauh. Hari itu ia harus pulang dari perjalanan panjang dan menantang. Dan takdir kembali menahannya di pintu keberangkatan. Pram tidak merasa cukup takdir menyetirnya hari itu. Ia merasa awam, ia merasa asing. Di kota orang, di tempat gersang. Pram tidak menerima takdir kala itu. Ia memilih melawan, ia memilih berjalan. Ia tidak sadar, bandara itu bukan tempat yang sabar. Ia tertahan disana tanpa kejelasan kabar.

Pram melihat kakinya lagi. Yang ia yakini setelah habis burger ini, kaki itu tak lagi di sini. Benar saja, ia berharap tidak duduk berkeringat di ruang tunggu kedatangan kala itu. Ia berpikir saat ini, kenapa tak lalu lari. Lepaskan satu hari, pergi mencari. Ia bisa saja keluar mencegat taksi, membawanya mengejar mimpi-mimpi. Ia cukup menekan tombol panggil dan bertanya pada-'nya' untuk terkail. Mungkin hari itu mereka akan lupa jika malam sudah berganti petang. Mungkin mereka akan menulis ulang. Mungkin mereka menemukan tempat pulang. Terlalu banyak yang ingin diceritakan. Terlalu lama penasaran penuh di debaran. Bukan pertanyaan, "Kapan ke Jakarta lagi?"

Pram menghabiskan sisa burger di tangan dalam satu gigitan. Berdiri lalu berpulang. Gadis yang dicintainya sedang menunggu jemputan.

14 July 2014

Aku, Bermimpi Tiga Kali Sebelum Bulan Jatuh

Musik melantun keras. Seorang seniman panggung ahli bahasa langsir membanting diri. Tidak sepandai itu tampaknya, ia masih menggenggam partitur lirik dan kalimat saji pemuas nafsu penikmat sastra. Tidak seperti dirinya. Semua yang duduk di depan panggung berpakaian serba ‘wah’. Yakin, semua berasal dari galeri yang menyediakan busana perancang ternama. Semua khidmat, semua tenang, menikmati seorang dengan kaos compang-camping menyiksa diri diatas panggung.

Ruangan begitu temaram. Hanya panggung berkilauan. Di paling depan beberapa meja bundar besar berbarisan. Ditemani kursi nyaman yang jaraknya berjauhan. Makin ke belakang hanya ada kursi berhimpitan. Hampir penuh. Menyisakan satu spasi bangku paling ujung, kedua dari atas, tepat di depanku geming.

Semua bergidik begitu seorang gadis berparas jelita melenggang. Tidak seperti yang lain. Ia mengenakan busana seadanya. Sebuah gaun mini yang berkilauan diterpa cahaya. Tanpa topi yang besarnya dua kali kepala atau mantel bulu belang seperti yang lainnya. Membiarkan rambut sepunggungnya terbang semaunya diterpa angin yang entah darimana. Mewujudkan dirinya tidak sama dari sebagian besar hadirat disana. Apalagi ditengah pertunjukan yang mana haram hukumnya untuk datang terlambat, jelas ia bukan orang biasa. Dengan anggunnya ia melangkah pelan. Dengan dompet tangan senada pakaian yang dikenakan. Semua orang tahu ia akan duduk dimana. Tapi tak seorang pun tau kenapa ia hadir disana.

Aku tahu. Aku tahu betul kenapa ia disana. Ia hendak menuntaskan janji yang dibuat pada mimpi sebelumnya.

"Temui aku lagi disini, di mimpimu berikutnya," katanya pelan sembari tersenyum genit. Diangkatnya gelas wine yang masih terisi sedikit untuk membasahi tenggorokannya. Kata ayah, menegak minuman setelah mengucapkan sesuatu adalah pertanda seseorang sedang berbohong. Ayah mengucapkan itu lalu menegak satu gelas penuh bir. Di malam ia menghempaskan mobilnya ke jurang, lengkap bersama tubuhnya yang renta. Kejadian itu sudah lama, tapi masih jelas bayangannya.

Juga gadis itu. Kuhapal betul caranya melangkah, menatap langit-langit bar yang kusam karena asap rokok. Membasahi bibir dengan lidahnya atau mengetukkan jari kepada meja. Ia seperti anak kecil yang sangat menginginkan sesuatu. Sesuatu yang tak kuberi saat itu, lalu ia membuat janji. Seolah aku yang mencarinya, ia membuat jadual pertemuan kedua.

Sekali lagi, semua pandangan tertuju pada tiap langkahnya sampai ia bersandar di bangkunya. Serentak semua pandangan hilang seiring cahaya yang makin temaram. Sang ahli panggung sudah berganti jubah. Ia sudah berbaur dengan hadirat disana. Tuxedo lengkap dengan topeng sepanjang mata. Tak ada lagi partitur di tangannya. Ia menjelma menjadi maestro sesungguhnya. Semua mata tertuju padanya.

Tapi tidak dia. Ia menerawang jauh dari panggung. Menghamburkan pandangannya ke tiap punggung kursi. Mengamati tiap bentuk pipi dan pundak pria berdasi. Nafas terburu, mata bak pemburu. Seolah tidak ada yang bakal luput dari buruannya, Seolah semua harus tunduk di hadapannya.

Senyum terkembang kala sudut pencariannya menggapai seratus enam puluh derajat. Ia tak menemukan pria berdasi atau dengan jubah besi. Ia hanya mendapati pria kumal yang dengan sombongnya menopang dagu dengan tangan kanannya. Masih geming. Mata pria itu menyala, mengamati keindahan wajah, mata genit, bibir merekah, dagu lancip, belahan dada yang mencuat dari gaunnya. Lalu entah apalagi yang diranah indera yang sanggup memuaskan rasanya untuk berkelana.  Gadis itu tidak risih. Ia mengambil inisiatif lewat sapaan basi.

"Kau datang," katanya lirih. Bunga bermekaran di musim semi kalah oleh binar mata dan ukir senyumnya.

"Ya. Tapi maaf, aku harus cepat bangun pagi ini," sahutku pelan sembari berdiri. "Di mimpi berikutnya pastikan hanya ada kita berdua. Aku sudah tak mau menunggu lama."

Ia mengangguk mantap. Pikirannya sudah menembus apa yang hendak kita lakukan di mimpi berikutnya. Ketika hanya berdua dan apa yang kita inginkan bersama.

06 March 2014

Still Untitled

Aku sudah disini jam delapan kurang enam belas menit. Tidak berkedip setiap lampu kendaraan mengintip. Berjubah genit untuk menarik perhatianmu dari langit berhampar bintang yang berusaha bersaing sengit. Aku tak akan kalah dari mereka, batinku mencicit.

Jam delapan tepat sebuah mobil merapat di bawah atap tempatku menetap. Turun gadis manis yang langsung menatapku lekat. Inikah lelaki yang ingin kujumpai setiap saat, atau mungkin hanya sesaat, pikirku tentang pikirnya. Lalu sebuah senyum terpahat. Ah, tampaknya aku mengenakan pakaian yang tepat.

"Sudah lama?" sapanya.

"Tak mengapa. Aku pernah menunggu lebih lama," jawabku.

Lalu kembali terdiam sama, lama. Senyum malu-malu terukir di wajahnya. Aku, ingin berjingkrak kemari-ke sana.

Kami memutuskan duduk di pojokan temaram. Karena hanya itu tempat romantis yang tersisa. Lalu kembali terdiam sama, lama.

Aku, masih tak percaya akan ada waktu berjumpa. Ia, mungkin berpikir aku menyakupi standarnya. Ia terlalu cantik untuk gadis yang baru menyentuh kepala dua. Aku, enam tahun lebih tua.

"Maaf, aku tak pernah bermimpi akan bertemu denganmu seperti ini. Maksudku, aku mengharapkannya. Hanya tak pernah menduganya. Aku sangat ingin bertemu denganmu," kataku terbata. Beberapa kata habis tertelan keringnya tenggorokan berdahaga. Aku tak haus sama sekali, hanya semua serasa mengering.

"Kamu lucu. Aku suka," diikuti tawanya.

Lalu dunia berhenti berputar, rembulan membesar, angin seperti membakar. Obrolan berikutnya mengalir seperti air. Seperti kisah asmara Romeo dan Juliet, seperti Rama dan Shinta, seperti Jenna dan Luca. Susah namun membekas terasa. Mewakili perasaan jutaan umat manusia.

Pramusaji restoran itu menghampiri, aku mengambil inisiatif memesan apa yang kau pikir sedari tadi sembari menelan pandangan pada menu di tangan kiri. Aku hafal semua tentangmu, itu membuatku mungkin terlihat freak di matamu. Tapi kau tetap memesan itu lalu tersenyum malu-malu.

"Bagaimana tulisanmu?"

"Mereka masih sering diam-diam kusentuh."

"Tampaknya hobimu lebih menyita waktu."

"Hahaha sepertinya begitu. Hobi, ya?"

"Kalau tidak begitu, kau pasti sudah menciptakan dunia baru."

"Aku hampir punya dunia baru."

Oh ya? Maukah kau bercerita kepadaku?"

Lalu malam menjadi makin panjang. Hidangan kita habiskan lewat cerita lalu lalang. Air warna-warni mondar-mandir di pialang. Kau berkisah tentang cerita baru yang kau kembangkan dari bait lagu. Lagu yang selalu kau dendangkan dari bibir mungilmu tiap malam diatas pukul dua. Lagu itu membawamu pada seorang pria, yang diam-diam selalu kau temui di tempatmu menyalurkan hobi. Beberapa orang menyebutnya kampus, yang lain menjulukinya mampus. Kau tak percaya jenis perasaan seperti itu, bukan?

Matamu lekat di wajahku, pikiranmu jelas tidak di situ. Mungkin di pria berjas putih bercelana abu-abu. Mataku lekat di matamu, tapi hatiku mundur perlahan dari situ. Bibirmu makin basah, mataku berusaha tak sama basah. Lalu kau menyudah obrolan itu karena waktu hampir menunjukkan pukul satu. Kau harus ada di rumah pukul dua, bukan?

"Maaf aku banyak cerita kabur. Aku terlalu bersemangat menemuimu."

"Begitu juga aku. Kau mungkin sedang berada di cinta yang mustahil."

"Ya, hanya saja aku tak tau menggambarkannya seperti apa."

"Seperti mencintai orang yang tak pernah kau temui"


Anata

Kau suka rembulan, dan menari di bawah hujan. Kau punya sebuah senyuman, setiap helainya menyembuhkan. Kau suka tampil menawan, tapi penuh kelembutan. Kau bahkan tak pernah mengeluh pada awan saat hari hujan atau tak ada bulan.

Kau kenal betul dirimu, aku masih belajar darinya. Bagaimana kau bisa terluka, lalu sembunyi dalam dirimu. Lalu sulit keluar. Seperti aku yang terjebak di dalamnya. Seperti kau yang terjebak di dalamku. Lalu kita satu.

I'm here, because you're here...

"Anata ga iru kara..." - Anata (L'Arc~En~Ciel)

03 December 2013

Gadis Pemimpi dan Lelaki Beristri

Kinar boleh punya segalanya. Tapi yang ia inginkan hanya mimpi. Tentang seorang lelaki yang telah beristri. Di lengan mereka, seorang gadis kecil menggantung ceria. 

Lelaki itu dikenalnya di dunia maya, Pramudya namanya. Sang istri? Tidak jelas siapa. Juga anak mereka. Yang jelas, cantik parasnya berdua. Kinar selalu tersenyum setiap mendapat gambaran serupa di tiap malam. Esok paginya, ia menelepon Pramudya.

"Aku memimpikanmu lagi. Dengan seorang wanita cantik dan gadis kecil menarik."

"Oh ya? Wah, terima kasih. Semoga pertanda baik," balas suara di seberang.

"Amin. Kau juga harus mengamininya!" serunya semangat.

" Amin."

Lalu hening. Telepon di tangan masing-masing bergeming. 

"Bagaimana kabar suamimu? Anakmu masih saja nakal?" lanjut suara di seberang.

"Ah, iya. Mereka masih begitu-begitu saja. Saya juga."

Sekali lagi, hening.

"Saya juga."

Bab Patah Hati

Ini sebuah cerita, tentang tiga puluh detik dalam tiga malam. Sebuah cerita tentang cinta, bab patah hati.

1.
Pramudya dan Kinar tertawa bersama. Keras, menggelegar. Sepuluh detik menjelang tengah malam. Telapak tangan mereka terkait, hati saling berbait, mengucapkan lelucon-lelucon indah tentang kenapa bulan begitu terang, dan bintang makin tenggelam. Tidak peduli malam makin mencekam, di gubuk yang melegam, dan pohon bambu menjadi saksi alam. Tak lama mereka berpagutan, lama dalam diam.

2.
Mata Kinar berbinar. Air mata berbulir di sudut matanya. Tidak lagi ada tawa di gubuk pinggir rawa, juga Pramudya. Ia duduk sendiri merenungi nyawa. Apa akan dicabutnya, atau berdua. Alam semesta gantian terbahak, melihat gadis remaja itu tersedak. Lalu bambu, bambu berdecak, "Kenapa kau berikan semua, kau bahkan tak kenal dia."

3.
Sudut jalan itu makin sepi. Hanya ada gubuk dan bambu. Semua geming, semua hening. Semua berpaling dari cinta yang bening.

12 August 2013

Namida

'Pertama kali' selalu jadi cerita tersendiri. Pertama kali masuk sekolah, pertama kali naik kelas, pertama kali mematahkan pensil. Pertama kali jatuh cinta, pertama kali berciuman, pertama kali bercinta.

Ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis yang menatap langit yang perlahan mengabu. Lembab mata sayunya hampir tidak berkedip, sembab bibirnya tidak mengatup. Secarik garis turun dari tengah matanya ke dagu kecilnya. Garis hitam keras. 

Ia menengadahkan tangan kanannya, telapaknya meminta langit berhenti di pusarannya. Lalu gerimis turun.

Tanda lampu jalanan manusia hijau sudah berganti manusia merah. Enam belas kali. Dia, masih diam tak memulai basa-basi. Kita berhadapan pertama kali. Aku jatuh cinta lagi. 

Perlahan air menggenang di telapaknya. Dikepalkan tangan itu. Jemari kecilnya kemudian membuka satu per satu. Di tangannya, ada kupu-kupu. Dari air hujan kelabu.

"Apa yang kau lakukan?"

"Menenun."

"Hujan?"

"Ya."

"It's hard to make sense, feels as if I'm sensing you through a lens." - Comforting Sounds (Mew)

22 June 2013

Cerita Mati

Aku pernah berjanji padamu dalam hati, aku tak akan melupakanmu sampai mati. Ah, tampaknya itu hanya cerita basi. Kau lebih memilih tidur dengannya dengan alasan permainan yang ingin kau nikmati. Bergelut dalam selimut berpelangi dengan keringat dan wajah merona pasi.

Aku tidak pernah membenci masa itu. Ketika kau lebih memilih satu dan itu bukan aku. Lalu berpetualang mencari madu. Lalu kau malu-malu. Tiga tahun kuhabiskan menunggumu. Kupikir itu hanya bayangan semu yang kemudian kau taburkan seraya garam diatas semua lukaku. Ah, masa lalu.

Aku punya pesan yang tak pernah kau baca. Aku tak tahu jika kau punya serupa. Biar aku coba, "Aku pernah berjanji padamu dalam hati, aku tak akan melupakanmu sampai mati." Tapi, itu hanya pesan belaka. Bukan nyata jika tak pernah terungkap adanya. Hanya disimpan dalam hati lalu meresap dalam dada. Menjalari urat syaraf, membutakan mata. Menutup semua pintu cinta lewat sentuhan dan tegukan kata-kata yang tak sempat keluar dalam sapa.

Aku ingin sekali mengatakan, "Aku pernah berjanji padamu dalam hati, aku tak akan melupakanmu sampai mati," ketika terakhir kau datang ke kota ini. Tapi bukan itu yang seharusnya terjadi.

Ada yang seharusnya terjadi, namun lebih baik tak terjadi. Saat semua tak seharusnya...

27 May 2013

Kapan Ke Jakarta Lagi?

Aku mengenal sebuah wajah dari tulisan. Ukirannya menggaris dari raut ceria hingga tawa. Hampir tak ada derita di mata dan senyum kemudian.

Aku enam belas hari di tanah ibukota untuk beberapa mimpi, dan banyak mimpi yang kubawa. Hampir tak bisa diburu guruh langit empat hari terakhir. Ia mengawan hitam lalu menangis dalam kelam.

Aku sudah menghubunginya lewat semua media. Ya, pemilik wajah ceria, aku mengantarkan mimpi punyaku sendiri. Jika tidak, untuk apa aku hanya berbekal tiket pulang saat datang. Selalu melangkah dibawah terangnya lampu jalanan ibukota yang kata mereka penuh ancaman.

Seperti malam ini, ketika kata tidur tidak bersahabat dengan mata. Padahal aku sudah terjaga selama kau memberikan pesan kata dan suara. Aku hanya bisa membaca dan mendengar tanpa menyentuhnya. Tanpa menyentuhmu.

"Kapan ke Jakarta lagi?"

Aku pernah melangkahkan kaki tanpa sengaja disana. Karena memang baru, karena aku pemalu. Jika kau tahu betapa lebar senyumku begitu mengenali gedung yang tiap hari harus kulewati, mungkin kau tak akan bertanya melulu. Dan aku berharap kau sedang memandang keluar saat itu, entah dari lantai berapa, kemudian mendapati seorang dengan senyum lebar bak orang gila di penghujung suatu senja. Mungkin, kau akan bisa tertawa sejenak, dan melupakan penat praktikum seharian.

Atau kita bisa saja bertabrakan mata, saat aku melangkah pelan dan mengidentifikasi wajah-wajah dibalik almamater biru di penghujung senja hari lainnya. Wajah-wajah penuh semangat sepertimu. Aku juga pernah berharap kau menggunakan layanan dari bank yang sama, agar kita berpapasan di ATM depan gedung itu. Lalu bertanya kabar, lalu pergi bersama keluar.

Mungkin kita bisa sama menikmati dentuman harmoni nada yang memekakan telinga, lalu saling menatap, lalu berteriak. Mimpi orang-orang yang kubawa kesana akan berbaur dengan mimpiku, dan tak ada yang lebih sempurna dari itu. Aku sudah siap, bahkan sebelum langkah pertamaku. Walau semua keraguan jelas datangnya pada hari yang paling ditunggu. Aku menumbuhkan kumis tipis kala itu. Hihi, lucu.

Ah, betapa indah dunia dalam imaji. Bisa membunuh sepi dan sunyi juga mimpi. Terjaga bersama jejak-jejak kecil bersama deru angin yang membawa hujan subuh ini.

"Ke Jakarta lagi dong? Biar bisa ketemu."

Tak perlu ibukota, jejakmu masih ada di pulau dewata. Beberapa ingatan menjadi gambar yang menyiratkan kita bersama. Deru angin dan ombak menggulung, memulung satu demi satu potongan senyum keindahan. Lalu, ya, kita setuju. Diantara suara alam paling indah, ini yang paling indah.

Hanya satu potongan yang tak sempat kugariskan ke masa mu. Pulau tebing dan batu, lengkap dengan jatuhnya matahari paling indah kemudian menyatu. Dengan itu semua, kita sekali lagi bersama.

***

Kita mungkin sudah bertemu. Tapi bukan di dunia ini. Mungkin sebelumnya, atau setelahnya. Atau hanya dalam rangkaian cerita yang kuharap kau adalah penulisnya.

19 April 2013

Kamu, Selalu

Langit terlalu biru untuk tak kita nikmati. Seorang pria merebahkan tubuhnya diatas rumput pinggir lapangan yang sering didatanginya belakangan. Menumbukkan tatapannya pada langit yang bergerak dari sela-sela daun pohon tua. Pramudya menyelipkan earphone di telinganya. Lagu yang sama setiap hari didengarnya. Lagu yang melempar memorinya pada ingatan lalu. 

Sepasang perahu kertas bertabrakan di sudut aliran air muka kelas. Pramudya kecil hanya bisa tertawa melihat sepasang perahu kertas itu perlahan tenggelam. Begitu juga yang dilempar tawa, terbahak. Sekelebat bayangan putih, Pramudya sudah berada diatas sepeda yang melaju kencang. Dipacunya makin kencang hingga teriakan yang diboncengnya juga selaras kencangnya. Mereka tertawa disela napas yang tersenggal. Alunan lagu masih mengalir, tanpa sepengetahuannya, seragam sekolahnya sudah basah kuyup. Tas sekolah sudah jadi atap. Pramudya berlari kecil memburu yang diburunya menembus hujan. Dibandingkan deru air mata langit, tawa mereka menggelegar. Berhenti, berteduh pada satu atap, saling melempar senyum. 

Celana pendek basahnya seketika memanjang. Warnanya pun luntur dari biru menjadi abu-abu. Ditelinganya menempel telepon seluler yang digenggamnya erat. Wajah tersenyum disampingnya mendadak hilang. Berganti suara merdu di seberang. Menanyakan kabar dan bertukar rindu. Baru saja ia ingin bermanja, telepon genggammnya tak mengeluarkan suara, hanya aroma manis. Sebatang coklat terganti disana. Rambut berguguran dibalik topinya. Pramudya mendadak botak. Ia tak lagi bermanja melalui kotak suara, sesungging senyuman sudah tersaji dihadapannya. Pramudya kikuk, sepasang mata dihadapannya sama kakunya. Mereka hanya tiga puluh satu menit disana. Masih dengan perasaan asing yang sama, seketika pria yang sama asingnya muncul disampingnya, dihadapan Pramudya. Perut orang yang ditatapnya mendadak membengkak. Tapi senyumnya sama lebarnya. Mereka berdua kemudian tersenyum. 

Lalu semua gelap.

Dalam kebingungan, Pramudya membuka mata. Langit masih biru dengan awan berarak melintasi lapangan itu. Terduduk, bersandar pada batang besar pohon tua itu. Lagu yang sama masih mengalun disana.

"You are always gonna be my love." Utada Hikaru - First Love

13 April 2013

Apakah kita?

Pramudya baru saja mematahkan pensilnya yang ketiga. Senja sudah lewat sejam yang lalu. Besok harusnya libur. Tapi yang ia lakukan hanya bisa bergumam. Lebih mirip desahan dongkol. Ditambah udara lantai enam belas gedung yang tidak menyisakan oksigen untuknya. Di mejanya, laporan belum kelar dan gambar sketsa yang bahkan tidak menyerupai wajah, bertumpuk. Halaman paling muka, kepala bulat telur dengan lebar diatas dan runcing di bawah. Mata serupa parasut bergelantungan yang jatuh di lubang menganga penuh gigi tajam.

Pramudya mendelik ke kotak kaca raksaksa tepat di depan meja kerjanya. Sosok yang ia tuangkan dalam gambar sedang hilir mudik disana. Tidak dengan kepala bulat telur, mata parasut dan mulut seraya lubang menganga bergigi tajam. Malah kebalikannya. Pria tinggi tegap dengan setelan yang terlihat mahal. Alis tebal dan mata menantang, hidung mancung dan bibir tipis dihias sedikit kumis. 

Pramudya seharusnya pulang empat jam lebih awal. Belum lagi telepon selulernya yang kini disilent karena terus berdering. Menunjukkan layar bertuliskan 'Darling Calling' enam belas kali tanpa jeda. Membayangkan tiket film di dompetnya yang sedetik lalu resmi diputar di bioskop langganannya. Terlebih membayangkan wajah si darling yang lebih mengerikan dibanding kepala telur yang ia gambarkan barusan. Dan melihat situasi seperti sekarang, tampaknya ia baru bisa beranjak dari situ 4 jam kemudian.

Sial! Batinnya terus-menerus. Ini bukan salahnya, juga si darling. Ia hanya ingin membahagiakan si darling dengan bekerja di tempat yang bukan jurusannya, bukan bidang keahliannya. Untuk apa ia menggambar dengan pensil jika ia bisa melakukannya dengan komputer super canggih jaman sekarang. Ia tentu tidak perlu berurusan dengan makhluk kepala telur.

Ia juga susah menyalahkan si kepala telur. Ia atasannya, jauh lebih punya kuasa. Memandang matanya saja Pramudya tak pernah berani, apalagi menentang kehendaknya, termasuk pulang kerja lebih larut. Tapi tidak kali ini, si kepala telur kelewat keterlaluan. Ah, ya! Ini salah Kinar! Gadis yang kelewat manis untuk ukuran si kepala telur. Untuk apa ia sok-sok-an memacari orang kaya ini kalau kemudian ia mencari orang kaya lain. Untuk apa ia bertunangan jika akhirnya ia memutus hubungan. Untuk apa ia berwajah manis jika hati seperti iblis. Untuk apa...

Pintu kaca ruang kaca raksaksa itu terbuka. Si kepala telur tanpa gontai berjalan tegas ke arahnya. Pramudya kembali menunduk, siap-siap untuk hanya mengangguk. Ayal-ayal diteriaki, laporan dan sketsa yang ia kerjakan dari pagi tadi dihempas begitu saja di meja, mengenai wajahnya, melukai harga dirinya.

Pramudya baru saja mematahkan pensilnya yang ketiga untuk kedua kalinya. Ia tau apa yang harus ia lakukan berikutnya. Membuat surat pengunduran dirinya yang baru saja mematahkan hidung si kepala telur. Untuk pertama kalinya.


"Are we human? Or are we dancer?" The Killers - Human